Cangkaro' Cang-kacangan, Oreng Kero' Tang-gentangan
Cangkaro' Tidak Berubah, Kita Saja yang Menua. Paparegan Madura yang Mengajak Kita Tertawa, Lalu Diam-diam Merenung
Begitu ibu mulai menggorengnya, aroma harum langsung memenuhi dapur. Kami sudah mondar-mandir di dekat tungku seperti satpam yang sedang ronda. Padahal tujuan sebenarnya bukan membantu ibu, melainkan memastikan kami menjadi orang pertama yang mencicipinya. Baru diangkat dari wajan, tangan kecil sudah berebut mengambil sambil meniup-niup karena masih panas. Ibu sering berkata, "Sabar, masih panas!" Tapi namanya anak-anak, nasihat ibu sering kalah cepat dengan tangan yang sudah lebih dulu masuk ke wadah.
Melihat cangkaro' itu, ingatan saya langsung melayang pada sebuah paparegan Madura yang sejak kecil sering saya dengar, "Cangkaro' cang-kacangan, oreng kero' tang-gentangan." Kalau didengar orang yang bukan orang Madura, mungkin terdengar seperti orang sedang latihan beatbox. Atau jangan-jangan dikira nama jurus silat tingkat akhir. Padahal di balik bunyinya yang lucu, paparegan ini menyimpan gambaran kehidupan yang sangat dekat dengan masyarakat Madura. Dalam bahasa Madura, kero' berarti keriput, sedangkan tang-gentangan berarti tidur terlentang atau rebahan santai. Jadi, paparegan ini menghadirkan bayangan tentang seseorang yang sudah tua, wajahnya mulai dipenuhi keriput, lalu lebih banyak menikmati masa tua dengan rebahan santai daripada keluyuran ke mana-mana.
Nah, di sinilah otak saya mulai berulah. Begitu mendengar paparegan itu, yang muncul di kepala bukan sekadar seorang tua berwajah keriput. Saya malah membayangkan seorang kakek yang usianya mungkin sudah lewat delapan puluh tahun. Rambutnya tinggal beberapa helai yang tampaknya masih bertahan karena belum menerima surat mutasi. Kumisnya lebih banyak kenangan daripada bulunya. Bangun dari duduk saja suaranya lebih ramai daripada pintu gudang yang engselnya sudah bertahun-tahun tidak diberi oli. Aktivitas favoritnya sekarang bukan lagi pergi ke sawah atau ronda malam, melainkan rebahan tang-gentangan di dipan bambu sambil menikmati angin sore. Kalau ada kejuaraan rebahan tingkat kampung, saya yakin beliau sudah pensiun sebagai juara bertahan karena terlalu sering menang.
Ketika Sebungkus Cangkaro' Mengingatkan Kita Bahwa Usia Tidak Pernah Bohong
Di samping beliau ada sepiring penuh cangkaro'. Warnanya menggoda, aromanya harum, dan kalau digigit bunyinya pasti "kreeek..." yang sanggup membuat orang di sebelah ikut menelan ludah. Anehnya, dari pagi sampai sore cangkaro' itu tidak berkurang sedikit pun. Saya sempat menduga beliau sedang diet. Rasanya tidak mungkin. Mungkin sedang puasa? Ternyata bukan. Takut kolesterol? Ah, rasanya juga bukan. Lalu imajinasi saya kembali bekerja. Saya membayangkan, selain wajahnya yang sudah penuh keriput, ternyata beliau juga sudah ompong. Nah, selesai sudah urusannya. Mau menggigit pakai apa? Cangkaro' itu bukan bubur, bukan kolak, apalagi es krim. Makanan ini butuh kerja sama antara rahang, gigi, dan keberanian. Kalau dipaksa digigit pakai gusi, yang bunyi mungkin bukan lagi cangkaro', melainkan hati yang mulai sadar kalau usia memang tidak bisa diajak kompromi.
Akhirnya sang kakek hanya memandangi cangkaro' itu. Kadang diambil, diputar-putar, dibalik, lalu diletakkan lagi. Persis seperti orang melihat motor sport baru di showroom. Dilihat boleh, difoto boleh, dielus-elus juga boleh kalau salesnya sedang lengah. Tapi begitu ditanya mau dibawa pulang atau tidak, dompet langsung pura-pura mati lampu. Dalam bayangan saya, sambil rebahan beliau bergumam pelan, "Andai gigiku masih lengkap, cangkaro' itu sudah tinggal sejarah dari tadi." Tentu saja, bagian tentang kakek yang sudah ompong ini hanyalah imajinasi saya. Sebab arti kero' dalam paparegan tersebut tetap berarti keriput, bukan ompong. Hanya saja, entah mengapa, dalam kepala saya keriput, rebahan, masa tua, dan gigi yang mulai pensiun terasa seperti satu paket yang sulit dipisahkan.
Waktu gigi masih lengkap kita sering memperlakukannya seperti alat serbaguna. Bungkus kopi dibuka pakai gigi. Benang diputus pakai gigi. Tutup botol dicoba digigit. Es batu dihancurkan seolah sedang balas dendam. Baru setelah satu gigi copot, kita mulai sadar bahwa benda kecil itu ternyata jasanya luar biasa. Melihat rengginang mulai berpikir dua kali. Melihat kacang mulai memilih yang empuk. Melihat cangkaro'... langsung mencari informasi harga gigi palsu sambil berharap ada diskon akhir bulan.
Dari situlah saya merasa paparegan "Cangkaro' cang-kacangan, oreng kero' tang-gentangan" bukan sekadar rangkaian kata yang lucu didengar. Orang-orang Madura zaman dulu ternyata pandai mengabadikan potret kehidupan dalam kalimat yang pendek, sederhana, tetapi langsung menghadirkan gambar di kepala siapa saja yang mendengarnya. Tidak ada ceramah panjang. Tidak ada petuah berlembar-lembar. Cukup satu paparegan, lalu biarkan imajinasi masing-masing orang menyelesaikan ceritanya.
Kalau hari ini kita masih bisa menggigit cangkaro' dengan bunyi "kreeek...", nikmatilah sambil bersyukur. Sebab suatu saat nanti mungkin kita juga akan sampai pada fase ketika wajah mulai dipenuhi keriput, rebahan terasa lebih nikmat daripada jalan-jalan, cucu-cucu sibuk menghabiskan camilan, sementara kita hanya tersenyum melihat mereka sambil mengenang masa ketika satu toples cangkaro' bisa habis sebelum azan Isya berkumandang. Begitulah cara orang Madura menyelipkan kebijaksanaan di balik candaan. Membuat kita tertawa lebih dulu, lalu diam-diam menyadarkan bahwa waktu berjalan lebih cepat daripada remah-remah cangkaro' yang hilang dari toples. 😄
"Bagi anak-anak kampung tahun 90-an, cangkaro' bukan makanan yang dibeli di warung. Cangkaro' lahir dari kebiasaan ibu-ibu yang sayang membuang nasi. Kalau ada nasi yang tersisa dan sudah tidak dimakan, nasi itu dijemur di bawah terik matahari sampai benar-benar kering. Setelah itu digoreng hingga mengembang dan renyah. Jadilah camilan yang sederhana, tetapi selalu berhasil membuat anak-anak mondar-mandir di dapur menunggu ibu mengangkat wajan."















