Khotbah Belum Selesai, Emosi Sudah Takbiran Duluan - Alfan Fazan Jr.
Khotbah Belum Selesai, Emosi Sudah Takbiran Duluan

Khotbah Belum Selesai, Emosi Sudah Takbiran Duluan


Sebagai laki-laki yang datang ke salat Id biasanya niatnya sederhana yaitu datang pagi, cari saf yang teduh, dengar khotbah sambil sesekali menahan kantuk, lalu pulang berharap dapat opor paling cepat, saya kadang merasa ada satu hal yang selalu sulit ditebak, yupss dinamika barisan ibu-ibu 😅

Belakangan viral video yang memperlihatkan suasana khotbah idul fitri malah diselingi adu mulut beberapa ibu-ibu. Padahal imam masih menyampaikan pesan damai, maaf-maafan, menahan emosi, tapi di sudut lain justru ada volume percakapan yang naik seperti toa cadangan.

Lucunya, momen seperti ini sering datang tanpa aba-aba. Awalnya mungkin cuma geser tempat duduk sedikit. Lalu ada yang merasa sajadahnya tersenggol. Ada yang merasa pandangan tidak enak. Lalu kalimat pembuka yang biasanya pendek tapi berbahaya keluar: “Maksudnya apa, Bu?” Nah, kalau kalimat itu sudah muncul, biasanya khotbah tinggal jadi backsound 🎤😆
ig @visit.surakarta
Dari sudut pandang laki-laki, kami ini kadang cuma bisa melirik pelan lalu pura-pura fokus ke depan. Karena pengalaman mengajarkan kalau salah lihat, bisa ikut terseret padahal cuma berniat membetulkan peci.

Yang bikin lucu, suasana idul fitri itu sebenarnya identik dengan kalimat mulia, mari saling memaafkan. Tapi praktik di lapangan kadang ada yang masih menyimpan mode “nanti dulu, ini perlu dibahas.” Jadi sebelum ketupat dibuka, uneg-uneg dulu yang dibuka 😄

Kalau dipikir-pikir, ibu-ibu memang punya energi sosial yang luar biasa. Dalam waktu singkat, mereka bisa membaca situasi, mengingat kejadian lama, lalu menyusun argumen lengkap tanpa perlu catatan. Kadang yang dibahas bukan cuma soal hari itu, tapi bonus arsip tahun lalu ikut keluar. Seperti file lama yang mendadak terbuka sendiri 📂😂

Tapi di balik lucunya, ada sisi yang sebenarnya menarik, keributan kecil seperti itu sering muncul karena semua orang datang membawa banyak rasa—capek persiapan lebaran, kurang tidur, urusan rumah, anak, dan ekspektasi suasana hari raya yang harus sempurna. Jadi ketika ada pemicu kecil, emosinya kadang ikut melonjak.

Sisi positifnya, setelah ramai biasanya justru cepat reda. Karena tidak lama kemudian ada yang menengahi, ada yang mengingatkan, lalu semua kembali sadar ini hari besar, masa iya kalah sama urusan sandal geser atau tatapan dua detik.

Sisi negatifnya tentu suasana ibadah jadi buyar. Anak-anak ikut melihat, jamaah lain terdistraksi, dan warganet akhirnya punya bahan baru untuk dibahas seharian 📱😅

Kadang khotbah tentang sabar sudah terdengar jelas, tapi emosi lebih dulu pakai pengeras suara sendiri.

Sebagai laki-laki, saya cuma bisa menyimpulkan di setiap acara besar, selalu ada kemungkinan drama kecil. Bedanya, kalau di rumah drama pakai remote TV, kalau di lapangan kadang cukup dengan satu kalimat: “Bu, jangan dorong-dorong.”

Akhirnya, lebaran memang bukan soal semuanya harus selalu tenang, tapi bagaimana setelah sempat panas, tetap bisa pulang sambil saling sapa. Karena jujur saja, ketupat lebih enak dimakan dalam suasana damai daripada sambil masih menyusun balasan argumen 😄☕🕌

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Berikan Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda ?