Ada jenis manusia (manusia ya bukan makhluk ghoib) yang kalau ngomong soal komitmen itu suaranya mantap, gayanya kalem, tatapannya jauh seolah habis belajar filsafat cinta semalam suntuk. Kalimat andalannya biasanya: "Aku tuh kalau sudah sama satu orang ya serius." Tapi anehnya, serius versi dia ternyata masih muat buka chat lawan jenis sambil santai seperti orang lagi cek harga cabai di pasar.
Pas ketahuan? Jawaban paling legendaris keluar juga:
"Itu cuma chat doank."
Nah, kalimat "cuma chat doank" ini memang sering dipakai orang yang merasa jempolnya tidak termasuk alat pengkhianatan. Seolah chat itu benda mati tanpa makna. Padahal isi percakapannya kadang lebih rajin dari alarm subuh: pagi nyapa, siang nanya makan, malam kirim emoji. Kalau memang cuma chat, kenapa ritmenya kayak pelanggan tetap? 📱😆
Yang lebih lucu, habis ketahuan bukannya malu, malah mendadak masuk mode drama tahunan.
"Aku gak suka cara kayak gini... kalau memang sudah, mari kita selesaikan baik-baik... aku terima semua konsekuensinya..." (drama banget ngalahin sinetron)
Lho? Ini kenapa yang salah malah ngomongnya kayak tokoh utama sinetron episode terakhir? Nada bicaranya berat sekali, seolah habis ditinggal perang, padahal masalahnya cuma karena ketahuan terlalu ramah di inbox.
Kadang setelah kalimat itu selesai, wajah langsung dibuat sendu. Pandangan kosong ke lantai, napas panjang, lalu diam seperti korban keadaan. Padahal kalau riwayat chat dibuka semua, mungkin ceritanya beda total. HP saja kalau punya mulut mungkin sudah capek jadi saksi bisu 🎭😂
Yang bikin satire hidup: percaya dirinya tetap tinggi. Sudah ketahuan, masih berharap dianggap dewasa karena bisa bilang "aku terima konsekuensinya". Padahal konsekuensi itu bukan slogan, tapi akibat dari kebiasaan yang dari awal sudah bikin orang curiga.
Lucunya lagi, model begini kadang tampil seolah punya nilai jual besar. Padahal kalau bercermin agak lama, badan kurusnya kadang mirip tangga plafon yang lagi disandarkan ke tembok—kalau kena angin sedikit mungkin goyang. Tapi entah kenapa drama dan egonya kok bisa ukuran jumbo 😅
Kalau tampang mirip Leonardo DiCaprio mungkin orang masih bilang, "ya sudahlah, masih ada bonus visual." Tapi ini kadang modal nekat plus kata-kata bijak hasil pinjam dari status orang lain.
Yang paling khas, setelah semua ribut, biasanya keluar kalimat penutup sok dewasa:
"Aku cuma gak suka ribut-ribut begini."
Padahal yang bikin ribut siapa? Orang kadang lucu, ingin terlihat tenang setelah sebelumnya bikin suasana seperti sidang kasus nasional.
Memang ada orang yang komitmennya tipis, tapi dramanya tebal. Salah sedikit langsung bicara seperti filsuf patah hati. Padahal inti masalahnya sederhana: kalau sudah bilang serius, ya minimal jempolnya juga diajak serius.
Karena kadang yang bikin capek itu bukan pengkhianatannya, tapi cara membela diri yang lebih kreatif daripada isi chatnya sendiri. 😆🔥

Ngereng Eyatore Akomentar
Bagaimana Pendapat Anda ?