Di negeri ini, kadang yang bikin gaduh bukan korupsi duluan, tapi joget duluan. Baru juga orang lihat video dapur program makan bergizi, eh yang muncul malah seorang bapak berjoget dengan ekspresi seperti habis menang tender semesta. Tangannya goyang, badannya lentur, lalu kalimat sakti keluar: "insentif Rp6 juta per hari."
Seketika timeline panas.
Rakyat yang tadinya lagi mikir harga cabai, mendadak berubah jadi analis anggaran negara. Ada yang buka kalkulator, ada yang buka komentar, ada juga yang langsung buka emosi.
Soalnya begini...
Kalau guru SD dengar angka Rp6 juta per hari, refleks yang muncul itu bukan joget, tapi batin langsung menghitung:
"Kalau sehari enam juta... berarti sebulan... astaga... ini angka yang kalau ditulis di slip honor guru, printer-nya mungkin ikut kaget."
😄
Padahal di sekolah, kadang beli spidol pakai uang pribadi saja masih sambil berharap ada cashback.
Makanya ketika video itu viral, publik bukan cuma lihat jogetnya. Yang dilihat itu simbol sosialnya: dapur, uang besar, lalu ekspresi terlalu bahagia.
Karena di Indonesia, kalau urusan duit publik, senyum terlalu lebar saja bisa dianggap proposal masalah.
Yang lucu, netizen sebenarnya bukan marah pada angka saja.
Tapi pada gaya penyampaiannya.
Karena rakyat kita ini unik. Kalau orang bilang:
"Ini insentif operasional resmi sesuai juknis."
Mungkin orang masih bilang: "oh ya sudah."
Tapi kalau sambil joget...
Nah, itu seperti guru piket mengumumkan uang study tour sambil moonwalk di depan murid.
Sulit tidak dicurigai.
😄
Padahal belakangan dijelaskan bahwa angka Rp6 juta itu memang insentif operasional resmi dalam skema program, bukan uang yang diambil dari jatah makan anak-anak, dan Badan Gizi Nasional juga sudah memberi klarifikasi bahwa insentif tersebut bagian dari sistem biaya layanan, bukan keuntungan pribadi lepas kontrol.
Tetapi ya begitu...
Di era sekarang, penjelasan sering kalah cepat dari potongan video 15 detik.
Video joget sudah keliling Indonesia, klarifikasi masih antre masuk grup WhatsApp keluarga.
Sebagai guru SD, saya jadi membayangkan kalau semua profesi pakai format yang sama.
Guru habis terima tunjangan sertifikasi, lalu bikin video:
"Masuk rekening... goyang dulu..."
Penjaga perpustakaan sambil muter buku:
"Hari ini buku baru datang dua kardus..."
Operator sekolah habis sinkron dapodik sukses, lalu joget depan komputer:
"Data valid, cuan aman..."
Pasti besoknya rapat mendadak.
😄
Karena masyarakat kita sebenarnya sederhana:
Kalau uang besar, minta satu hal saja: jangan terlalu terlihat menikmati.
Nikmati boleh, tapi ekspresinya jangan seperti habis menemukan tambang emas di belakang dapur.
Lalu dapurnya sempat dihentikan operasional sementara karena tata letak dan limbah juga ikut disorot. Jadi lengkap sudah dramanya: dari joget, uang, sampai saluran air.
Ini seperti tugas kelompok yang awalnya cuma salah cover, lalu ternyata isi dan margin juga diperiksa.
Akhirnya publik belajar satu hal:
Di zaman sekarang, kadang bukan salah bicara...
tapi salah timing senang.
Karena rakyat yang belum gajian melihat orang joget sambil menyebut enam juta per hari itu efeknya mirip murid lihat temannya makan bakso saat dirinya cuma bawa kerupuk.
Ada rasa ingin bertanya, tapi juga ada rasa ingin diam sambil menatap jauh.
Akhirnya Hendrik minta maaf ke publik, bahkan ke Presiden juga. Itu langkah yang tepat. Karena kadang di negeri ini, klarifikasi paling aman memang dimulai dari kalimat:
"Mohon maaf kalau video saya menimbulkan kegaduhan..."
Kalimat sakti nasional.
Setelah itu biasanya suhu komentar turun dua derajat.
Pelajaran pentingnya:
Kalau bekerja di program publik, kadang bukan cuma dapur yang harus steril...
kamera juga harus steril dari euforia berlebihan.
Karena sendok bisa dicuci.
Wajan bisa dibersihkan.
Tapi jejak video viral...
itu abadi di screenshot netizen.
😄☕📱

Ngereng Eyatore Akomentar
Bagaimana Pendapat Anda ?