Indonesia lagi ramai. Bukan karena ada konser internasional atau diskon besar-besaran di marketplace, tapi karena mahasiswa kembali turun ke jalan. Jakarta, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya dipenuhi aksi unjuk rasa yang menyoroti ekonomi yang makin bikin kepala cenat-cenut. Harga kebutuhan pokok naik, BBM ikut naik, sementara isi rekening memilih untuk tetap rendah hati.
Kalau dipikir-pikir, rakyat Indonesia ini memang makhluk paling sabar sedunia. Bayangkan, setiap ke pasar selalu ada kejutan baru. Dulu yang ditanya, "Bu, bawangnya berapa?" Sekarang pertanyaannya berubah menjadi, "Bu, yang harganya belum naik itu apa?"
Mahasiswa pun akhirnya ikut bersuara. Mereka datang membawa spanduk, pengeras suara, dan semangat yang kadang lebih besar daripada kuota internet mahasiswa akhir bulan. Tuntutannya juga sederhana, ekonomi diperbaiki, harga kebutuhan pokok diturunkan, dan anggaran negara digunakan dengan lebih tepat sasaran.
Yang lucu, setiap mahasiswa demo, masyarakat selalu terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama berkata, "Bagus, mahasiswa masih peduli rakyat." Kubu kedua berkata, "Mahasiswa kok demo terus?" Padahal kalau mahasiswa diam, orang yang sama biasanya bertanya, "Sekarang mahasiswa ke mana? Kok nggak ada yang bersuara?"
Memang sulit menjadi mahasiswa di negeri ini. Diam disalahkan, bersuara juga disalahkan. Rasanya seperti jadi admin grup WhatsApp keluarga yang tugasnya tidak pernah benar di mata semua orang.
Di sisi lain, ada juga kelompok yang turun ke jalan untuk mendukung program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis. Akhirnya suasana jadi seperti kolom komentar media sosial yang pindah ke jalan raya. Ada yang mendukung, ada yang menolak, ada yang bingung, dan ada yang cuma lewat sambil bertanya, "Ini demo apa lagi?"
Lalu muncullah istilah yang membuat banyak orang mendadak menjadi ekonom dadakan, yaitu "Indonesia bangkrut". Netizen Indonesia memang punya kemampuan super. Baru membaca judul, langsung membuat kesimpulan. Belum selesai membaca isi berita, sudah membagikannya ke lima grup WhatsApp sekaligus.
Padahal persoalan ekonomi itu rumit. Tidak bisa diselesaikan dengan kalimat sakti, "Tenang, nanti juga membaik." Kalau semudah itu, bapak-bapak yang suka berdebat di Facebook sudah lama menjadi Menteri Keuangan.
Jujur saja, rakyat Indonesia sebenarnya tidak meminta yang aneh-aneh. Tidak ada yang bangun tidur lalu berkata, "Ya Allah, semoga hari ini saya punya jet pribadi." Tidak. Rakyat cuma ingin pergi ke pasar tanpa harus mengaktifkan kemampuan berhitung tingkat olimpiade matematika.
Yang paling hebat dari Indonesia adalah kemampuan warganya untuk tetap bercanda di tengah situasi yang sulit. Pagi membaca berita ekonomi, siang membuat meme, sore berdebat di media sosial, malam nongkrong sambil berkata, "Waduh, negara lagi nggak baik-baik saja ya."
Besoknya? Mengulang lagi dari awal.
Pada akhirnya, mahasiswa, pemerintah, pedagang, guru, tukang bakso, sopir, sampai bapak-bapak yang hobinya mengomentari semua berita, sebenarnya punya tujuan yang sama. Semua ingin hidup lebih tenang dan ekonomi lebih bersahabat.
Karena sesungguhnya, rakyat Indonesia tidak minta kaya raya. Mereka cuma ingin satu hal sederhana: saat pergi belanja, yang kaget itu diskonnya, bukan harganya.
Dan seperti biasa, Indonesia akan tetap menjadi Indonesia. Negara yang warganya bisa berdebat sepanjang hari, lalu malamnya tetap duduk bersama sambil ngopi dan berkata, "Semoga besok lebih baik."
Kalau besok belum lebih baik juga, paling tidak semoga harga cabai jangan ikut lomba lari lagi. 😄


Ngereng Eyatore Akomentar
Bagaimana Pendapat Anda ?