Murid Libur, Guru Tetap Online: Drama WFO dan WFH Saat Liburan Sekolah

Murid Libur, Guru Tetap Online: Drama WFO dan WFH Saat Liburan Sekolah


Begitu pengumuman libur sekolah keluar, murid langsung bersorak. Orang tua mulai menyusun rencana liburan. Sementara guru? Jangan salah paham dulu. Di kalender memang tertulis "libur sekolah", tapi di grup WhatsApp kantor tertulis, "25% WFO dan 75% WFH secara bergantian."

Guru yang sedang berusaha membedakan mana libur sekolah dan mana libur yang cuma mitos

Pengumuman datang. Libur sekolah dimulai. Murid senang, orang tua mulai menghitung biaya jajan anak selama di rumah, dan guru... eh, tunggu dulu.

Guru ternyata belum tentu libur.

Muncullah kebijakan baru yang bunyinya kurang lebih begini:

"Selama libur sekolah, guru melaksanakan WFO 25% dan WFH 75% secara bergantian."

Sekilas terdengar keren.

Ada istilah WFO.

Ada istilah WFH.

Rasanya modern, kekinian, dan berbau korporat.

Tapi setelah dipikir-pikir, kok ada yang janggal?

Ini libur sekolah apa piket RT?

Kalau murid sudah rebahan sambil maraton kartun, guru masih sibuk melihat jadwal.

"Besok aku WFO atau WFH ya?"

Sampai-sampai guru lebih hafal jadwal shift daripada jadwal tayang sinetron.

Padahal jauh di dalam hati, para guru sebenarnya punya cita-cita sederhana.

Bukan WFO.

Bukan WFH.

Tapi WFA.

Work From Anywhere.

Kerja sambil ngopi di teras rumah.

Kerja sambil menemani anak bermain.

Kerja sambil duduk santai di warung kopi.

Kalau inspirasi datang, tinggal buka laptop.

Kalau inspirasi belum datang, ya buka toples kerupuk.

Sayangnya, realita tidak seindah drama Korea.

Karena walaupun WFH, tetap ada satu musuh bersama yang tidak pernah absen.

Yaitu... aplikasi absensi.

Dulu, absen cukup tanda tangan.

Sekarang tidak.

Sekarang harus buka HP.

Nyalakan kamera.

Lalu muncul instruksi yang bikin kita seperti ikut audisi pencarian bakat.

"Gelengkan kepala ke kanan."

"Gelengkan kepala ke kiri."

"Tersenyumlah."

Sebentar lagi mungkin muncul instruksi:

"Silakan joget sedikit agar sistem yakin Anda manusia."

Lucunya, kita ini guru, bukan kontestan filter TikTok.

Belum selesai sampai situ.

Masih ada GPS.

Nah, ini yang paling seru.

Karena tiba-tiba semua guru berubah menjadi satelit berjalan.

Aplikasi tahu kita ada di mana, bergerak ke mana, bahkan mungkin lebih perhatian daripada mantan.

Guru pun mulai panik.

"Sinyalnya aman nggak?"

"GPS aktif nggak?"

"Lho kok gagal absensi?"

Padahal lagi duduk manis di rumah sendiri.

Akhirnya selama libur sekolah, guru menjalani kehidupan yang unik.

Murid libur.

Guru setengah libur.

Tapi administrasi tidak pernah libur.

Jujur saja, guru bukan malas bekerja. Guru paham bahwa tugas dan tanggung jawab tetap harus berjalan. Hanya saja, kata "libur sekolah" terkadang terdengar sedikit lucu kalau ujung-ujungnya masih ada jadwal kerja, absensi digital, lokasi GPS, dan berbagai notifikasi yang muncul sejak pagi.

Kalau begini, mungkin perlu istilah baru.

Bukan libur sekolah.

Tapi libur rasa kerja.

Atau kerja rasa libur, tapi nggak jadi libur.

Yang paling lucu sebenarnya bukan WFO atau WFH, melainkan kemampuan luar biasa guru Indonesia untuk beradaptasi.

Dulu mengajar pakai kapur.

Lalu pakai proyektor.

Lalu pakai Zoom.

Lalu pakai Google Meet.

Sekarang libur pun pakai GPS.

Lama-lama guru Indonesia bisa melamar jadi astronot.

Karena sudah terbiasa dipantau satelit.

Tapi ya sudahlah. Namanya juga guru Indonesia. Makhluk yang daya tahannya kadang melebihi baterai ponsel.

Besok WFO, siap.

Besok WFH, siap.

Besok WFA? Nah, yang ini baru membuat hati berbunga-bunga.

Karena sesungguhnya, impian terbesar guru saat libur sekolah itu sederhana.

Bukan pergi ke Bali.

Bukan pergi ke luar negeri.

Cuma ingin bangun pagi tanpa mendengar bunyi notifikasi.

Dan kalau memang harus bekerja, setidaknya jangan buat kami melakukan gerakan kepala kanan-kiri sambil tersenyum di depan kamera.

Kami ini guru, bukan karakter pembuka gim Nintendo. 😄

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?