WFH 75%, Gabut Berfaedah, Lahirlah X-Degan QR

WFH 75%, Gabut Berfaedah, Lahirlah X-Degan QR

Liburan sekolah bulan Juni tahun ini lumayan unik. Guru masuk pakai sistem shift, sekitar 25% WFO dan sisanya 75% WFH. Kalau orang lain mungkin memanfaatkan WFH buat rebahan, maraton drama, atau menyelesaikan daftar tontonan yang numpuk. Lah saya malah kepikiran bikin aplikasi Android. Mungkin memang ada orang yang kalau gabut cari hiburan, tapi saya gabutnya cari error.

Karena kebagian jadwal WFO, saya hampir selalu datang pagi ke sekolah. Nah, dari situ saya mulai melihat pola yang cukup menarik. Ada siswa yang sudah nongkrong di sekolah sebelum bel berbunyi, ada juga yang datang santai seolah-olah bel sekolah itu cuma saran, bukan aturan. Dari situ muncul pikiran, "Gimana ya caranya bikin anak-anak lebih semangat datang pagi, tapi tanpa harus tiap hari jadi satpam gerbang?" Akhirnya muncullah ide membuat aplikasi absensi berbasis QR Code yang saya beri nama X-Degan QR.

Konsepnya sebenarnya sederhana. Anak datang sekolah tinggal scan QR Code, pulang juga scan lagi. Data langsung tercatat. Tapi seperti kata pepatah programmer, "Kalau kelihatannya mudah, berarti kamu belum lihat isi kodenya." Di balik satu tombol scan itu ternyata tersembunyi ribuan baris kode yang siap menguji kesabaran. Kadang yang error bukan aplikasinya, tapi yang bikin aplikasinya.

Supaya orang tua juga tahu aktivitas anaknya di sekolah, saya tambahkan fitur laporan ke WhatsApp wali murid. Jadi setelah anak melakukan absensi, orang tua bisa mendapatkan informasi kehadiran. Kalau suatu saat ada siswa yang pulang lebih awal karena izin atau keadaan tertentu, orang tua juga langsung mendapatkan pemberitahuan. Lumayan, selain membantu komunikasi antara sekolah dan keluarga, fitur ini juga bikin alasan klasik seperti, "Tadi sekolah pulang cepat kok, Bu..." bisa langsung dicek. Sekarang bukan cuma guru yang punya data, orang tua juga ikut pegang bukti.

Banyak yang mengira sekarang bikin aplikasi itu gampang karena ada AI. Tinggal bilang, "Buatkan aplikasi," selesai. Ya... kalau semudah itu, mungkin semua orang sudah punya aplikasi sendiri. Faktanya AI memang sangat membantu, tapi bukan berarti semua langsung beres. Bayangkan saja, AI itu tidak punya mata. Dia disuruh mencari bug yang hanya muncul di layar laptop saya. Saya kirim kode, AI bilang, "Sudah diperbaiki." Saya compile. Error. Saya kirim lagi. AI bilang, "Seharusnya sudah benar." Saya compile lagi. Errornya malah ngajak teman. Rasanya seperti main tebak-tebakan, cuma hadiahnya bukan uang, tapi tulisan merah panjang di Android Studio.

Walaupun begitu, saya tetap salut dengan perkembangan AI sekarang. Dulu kalau mau mencari letak masalah harus membaca file satu per satu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sekarang tinggal bilang, "Cari bagian kode yang mengatur scanner QR," atau "Di mana logika pengiriman WhatsApp?" AI langsung menunjukkan lokasi yang kemungkinan besar menjadi sumber masalah. Memang ujung-ujungnya saya tetap harus mengedit kode secara manual supaya hasilnya sesuai keinginan, tapi setidaknya AI membuat prosesnya jauh lebih cepat dan tidak terlalu bikin rambut rontok.

Dalam proses pengembangannya saya menggunakan Google AI Studio untuk membantu menyusun logika dan potongan kode. Untuk urusan desain antarmuka, saya lebih nyaman menggunakan Canva supaya tampilannya enak dilihat dan tidak seperti aplikasi zaman Android masih pakai tombol fisik. Setelah semua terasa cukup, ternyata perjuangan belum selesai. Project mentah dari AI Studio masih harus dipindahkan ke Android Studio supaya bisa di-compile menjadi file APK. Nah, di sinilah drama sebenarnya dimulai. Kadang Gradle ngambek, kadang library bentrok, kadang ada fitur baru yang justru membuat fitur lama ikut mogok kerja. Rasanya seperti memperbaiki genteng bocor, yang bocor malah ruang tamunya.

Untungnya semua perjuangan itu mulai menunjukkan hasil. X-Degan QR sekarang bukan sekadar aplikasi absensi biasa. Di dalamnya ada fitur scan QR Code, pencatatan jam masuk dan pulang, laporan ke WhatsApp wali murid, rekap absensi, hingga pemberitahuan jika ada siswa yang pulang lebih awal. Harapannya sederhana, anak-anak jadi lebih disiplin datang ke sekolah, guru lebih mudah mengelola absensi, dan orang tua merasa lebih tenang karena bisa mengetahui aktivitas anaknya selama di sekolah.

Sebenarnya aplikasi ini juga sangat memungkinkan untuk dipublikasikan di Google Play Store supaya siapa saja bisa mengunduhnya dengan mudah. Sayangnya masuk Play Store tidak cukup modal semangat dan kopi. Google meminta biaya pendaftaran akun developer sekitar 25 dolar Amerika atau kurang lebih Rp400 ribuan sebagai biaya sekali bayar. Jadi kalau nanti ada yang bertanya, "Pak, kapan aplikasinya masuk Play Store?" Jawaban saya sederhana, "Bisa kok... tinggal tunggu dana dari para donatur yang ikhlas menyawer. Anggap saja investasi pahala untuk mengurangi drama absensi siswa. Wkwkwk." 

silahkan donasi sekarang ! 


Siapa sangka, semua cerita ini berawal dari jadwal WFH saat liburan sekolah. Ternyata waktu luang memang bisa menghasilkan dua kemungkinan. Ada yang menghabiskan waktu dengan rebahan, ada yang menghabiskan waktu dengan begadang ditemani Android Studio dan AI. Bedanya cuma satu, yang satu bangun tidur badan pegal, yang satunya bangun tidur... errornya nambah.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan aplikasi Android pertama yang saya buat. Sebelumnya saya sudah berhasil membuat beberapa aplikasi Android. Yang pertama adalah aplikasi Fasen Blog, isinya buat memudahkan pembaca mengikuti artikel terbaru tanpa harus buka browser terus. Yang kedua... rahasia dulu ya, wkwkwk. Biar jadi teaser, siapa tahu nanti ada artikel khusus buat membahasnya. Nah, yang terakhir inilah X-Degan QR, aplikasi absensi siswa berbasis QR Code yang lahir dari kombinasi waktu luang saat WFH, kebiasaan datang pagi ke sekolah, dan rasa penasaran, "Masa sih absensi sekolah harus gitu-gitu aja?"

Lucunya, setiap selesai satu aplikasi, saya selalu bilang dalam hati, "Udah deh, ini yang terakhir." Eh, beberapa hari kemudian muncul ide lagi. Kayaknya memang penyakit orang yang suka ngoprek itu bukan kurang kerjaan, tapi kebanyakan ide. Begitu melihat ada masalah kecil di sekitar, otaknya langsung berpikir, "Ini bisa dibikin aplikasi nggak ya?" Padahal kadang yang dibutuhkan cuma istirahat, bukan buka Android Studio.

Sekarang kalau ada teman bertanya, "Belajar coding dari mana?" Saya biasanya cuma senyum. Jujur saja, saya bukan programmer profesional. Saya belajar sambil praktik, sambil dimarahi error, sambil ditemani AI yang kadang benar-benar jadi penyelamat, kadang juga ikut bikin bingung. Yang penting jangan malu mencoba. Karena setiap aplikasi yang jadi itu sebenarnya kumpulan dari ribuan error yang akhirnya menyerah satu per satu.

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?