Drama Pinggir Jalan: Ketika yang Teriak Malah Lebih Menghayati dari Sinetron - Alfan Fazan Jr.
Drama Pinggir Jalan: Ketika yang Teriak Malah Lebih Menghayati dari Sinetron

Drama Pinggir Jalan: Ketika yang Teriak Malah Lebih Menghayati dari Sinetron

Kadang hidup itu memang suka kasih tontonan gratis yang plot-nya nggak pernah kepikiran sama penulis sinetron. Lagi jalan biasa, niatnya cuma lewat, eh tiba-tiba telinga ditarik paksa masuk ke sebuah adegan pertengkaran yang auranya sudah kayak final episode drama.

Di depan mata ada laki-laki sama perempuan lagi cekcok. Awalnya saya pikir ya biasa lah, mungkin debat kecil soal salah paham atau urusan sepele. Tapi makin lama saya dengar, kok yang semangat justru si laki-laki. Dan bukan semangat biasa—ini semangat yang nadanya naik turun, volume full, ekspresi total, tangan ikut bicara, pokoknya paket lengkap.

Yang bikin saya makin menoleh, cara tengkarnya kok... gimana ya... penuh penghayatan sekali. Kalau biasanya orang marah itu tegas, ini malah ada nuansa emosional tingkat tinggi. Nada suaranya seperti habis menahan luka batin bertahun-tahun.

Lalu keluarlah kalimat andalan yang bikin suasana langsung berubah dari cekcok biasa jadi adegan drama:

"Kamu nyakitin hatiku!"

Saya langsung diam.

Dalam hati: loh... ini hubungan kalian sebenarnya apa?

Karena dari tampang situasi, ini bukan pasangan resmi. Bukan suami istri. Bukan juga pacaran yang kelihatan jelas. Tapi kalimatnya sudah seperti habis putus kontrak perasaan seumur hidup. wkwkwk

Belum selesai sampai situ.

Dengan dada membusung dan tatapan jauh entah ke mana, si laki-laki lanjut bilang:

"Sampai kapanpun aku tidak memaafkanmu!"

Nah ini puncaknya.

Kalimat itu keluar begitu lantang, begitu dalam, sampai saya merasa background musik seharusnya otomatis muncul. Tinggal kamera zoom pelan, terus daun beterbangan.

Serius, rasanya kayak lagi nonton Meteor Garden versi gang kampung. Atau adegan patah hati ala The Untamed tapi setting-nya dekat warung.

Yang bikin lucu, si perempuan justru mukanya datar. Seolah sudah kebal dengan level drama seperti itu. Sementara si laki-laki masih berdiri dengan aura tokoh utama yang baru dikhianati episode 27.

Saya yang cuma lewat malah jadi ikut mikir:

"Ini sebenarnya konflik apa? Tagihan belum dibayar? Janji datang nggak ditepati? Atau cuma salah paham soal chat dibalas lama?"

Kadang memang kehidupan sosial kita ini unik. Ada orang yang marah secukupnya, ada juga yang kalau marah sekalian audisi pemain drama.

Bukan soal laki-laki nggak boleh ekspresif ya. Boleh banget. Emosi itu manusiawi. Tapi kalau kalimatnya sudah level:

"Kamu hancurkan semuanya..."

padahal status hubungan masih abu-abu, penonton dadakan seperti saya jadi bingung harus simpati atau ketawa.

Yang paling menarik dari kejadian seperti ini adalah betapa banyak orang sekarang berbicara dengan intensitas seperti tokoh utama film, padahal persoalannya belum tentu sebesar itu. Sedikit salah paham, nadanya sudah seperti konflik keluarga besar tiga generasi.

Mungkin memang pengaruh tontonan juga. Kebanyakan lihat drama, akhirnya pas marah pun diksi dipilih yang paling menusuk.

Padahal kadang masalahnya sederhana:
tinggal bilang baik-baik, selesai.

Tapi ya begitulah hidup. Kalau semua orang tenang, jalanan jadi kurang hiburan.

Kadang kita nggak perlu langganan platform film mahal, cukup duduk dekat warung sore hari. Cerita ada, konflik ada, tokoh emosional ada, bahkan kadang ending-nya lebih mengejutkan dari drama serial.

Dan saya pulang sambil tetap mikir:

Drama apa sih tadi? 😄

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?