Pantai Slopeng, Tiket Jalan Terus, Sampah Ikut Menyambut

Pantai Slopeng, Tiket Jalan Terus, Sampah Ikut Menyambut

Kadang yang bikin malu itu bukan kalau tempat wisata dikritik. Yang bikin malu adalah ketika kritiknya masuk akal... lalu kita sendiri yang orang daerah cuma bisa menghela napas sambil bilang:

"Iya juga sih..."

Pantai Slopeng itu sebenarnya bukan pantai sembarangan. Hamparan pasirnya luas, anginnya enak, ombaknya punya karakter, dan dari dulu selalu masuk daftar kebanggaan wisata di Sumenep.

Tapi sayangnya, kadang yang datang lebih dulu ke pengunjung bukan rasa kagum...

melainkan plastik kresek.😄

Video kritik wisatawan yang viral itu sebenarnya sederhana orang datang jauh-jauh, beli tiket, berharap dapat pemandangan bagus, tapi yang ikut tampil justru sampah di beberapa titik pantai. Keluhan utamanya bukan sekadar soal mahal atau murah tiket, tapi soal pengalaman yang dianggap tidak sebanding dengan kondisi lapangan.

Nah, di sini masalahnya.

Kalau wisatawan sudah bicara:
"Harga segini kok sampahnya begini?"
Itu artinya yang dibayar bukan cuma tiket masuk, tapi juga harapan.
Dan harapan itu ternyata kadang kalah cepat datangnya dibanding petugas kebersihan.
Sebagai orang Sumenep, jujur saya juga malu.
Bukan malu karena pantainya jelek—karena pantai kita sebenarnya indah.
Tapi malu karena tempat sebagus itu kadang kalah oleh urusan yang seharusnya paling dasar: kebersihan.
Karena pantai itu ibarat ruang tamu daerah.
Kalau tamu datang lalu lihat lantainya penuh sampah, masa kita mau bilang:

"Maklumi saja, anginnya memang rajin mindah plastik."😄

Tidak bisa begitu.

Wisata sekarang bukan cuma soal panorama.
Orang datang juga menilai pengelolaan.
Kalau pasir bagus tapi sampah berseraka, hasil akhirnya tetap satu
foto tetap diambil, tapi caption-nya menyakitkan.
Yang lebih lucu, kadang kita ini hebat di spanduk.
Tulisan "Jagalah Kebersihan" besar sekali.
Tapi sampah di bawahnya seakan ikut membaca lalu berkata:

"Saya tetap di sini."😄

Padahal wisatawan sekarang cepat sekali menilai.
Dulu orang pulang paling cerita ke tetangga.
Sekarang satu video bisa membuat satu kabupaten ikut dibahas satu Indonesia.
Apalagi kalau narasinya tajam: tiket masuk terasa mahal, tapi fasilitas dan kebersihan belum memuaskan.
Saya kira kritik seperti ini jangan dianggap serangan.
Justru ini alarm.
Karena lebih baik dikritik sekarang daripada nanti orang datang sekali lalu cukup.
Wisata itu hidup dari kesan.
Kalau kesan pertama sudah sampah, maka promosi sehebat apa pun bisa kalah oleh video 30 detik.
Yang kadang membuat heran, kita sering bangga bilang punya destinasi unggulan.
Tapi urusan tempat sampah saja kadang seperti proyek pemikiran jangka panjang.

Padahal logikanya sederhana:
orang liburan pasti bawa makanan, minuman, plastik, tisu.
Kalau tempat buangnya sedikit, akhirnya pantai jadi seperti ruang istirahat sampah nasional.😄

Sebagai orang Sumenep, saya malu kalau tamu datang lalu pulang membawa cerita buruk.
Karena daerah ini punya banyak potensi wisata bagus.
Jangan sampai keindahan alam kalah oleh kelalaian kecil yang terus dianggap biasa.
Kalau tiket terus ditarik, maka pelayanan juga harus bergerak.
Kalau promosi terus dibuat, maka kebersihan harus lebih dulu hadir.
Karena wisata bukan hanya soal orang datang...
tapi soal orang ingin kembali.
Kadang solusi paling mahal bukan bangun yang baru.
Tapi serius merawat yang sudah ada.
Pantai tidak minta dekorasi mewah.
Ia cuma minta dijaga agar tetap pantai, bukan tempat sampah yang kebetulan punya ombak.😄🌊
Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?