Kalimat pembukanya biasanya berat:
"Saya itu paling gak suka orang yang begini..."
Padahal lima menit setelah itu, kalau diputar ulang hidupnya pelan-pelan, ternyata dia juga sedang melakukan hal yang sama. Bedanya cuma dia merasa versinya lebih elegan. 😄
Contoh paling klasik: soal fee proyek.
Dia semangat cerita tentang orang lain yang katanya suka ambil fee.
Nada suaranya dibuat serius, wajahnya seperti auditor negara.
"Gak bagus itu, kerja kok masih ambil-ambil begitu..."
Padahal kalau proyek mampir ke tangannya, fee juga lewat. Memang tidak besar, mungkin nominalnya masih kalah harga Surya 12 satu bungkus. Bahkan kalau dihitung, mungkin lebih murah dari orang nongkrong dua gelas kopi sachet.
Tapi entah kenapa dibahas seperti kasus besar level rapat darurat. 🤣
Yang bikin lucu, kadang barang yang dipersoalkan itu kecil sekali. Fee receh, nominal tipis, bahkan kalau hilang pun hidup tetap lanjut. Tapi cara membicarakannya seperti sedang mengungkap skandal ekonomi internasional.
Padahal kalau mau jujur, kadang hidup ini memang penuh transaksi kecil yang semua orang paham selama masih wajar.
Masalahnya bukan di nominalnya, tapi di gaya ceramahnya yang terlalu tinggi.
Cara bicaranya juga sering naik level. Sedikit-sedikit pakai nada berat, istilah rumit, dan ekspresi seperti habis rapat direksi perusahaan multinasional.
Padahal kalau dilihat lebih dekat, suasananya cuma di teras, sandal masih miring sebelah, teh di gelas juga tinggal setengah. Tapi gaya ngomongnya sudah seperti CEO yang mau akuisisi tiga negara.
Lucunya lagi, kadang orang begini suka memberi kesan dirinya sangat eksklusif.
Setiap kalimat dibungkus seolah keputusan besar dunia bergantung pada pendapatnya.
Padahal kalau dibandingkan, bahkan CEO di kota-kota besar China yang kerja diam-diam saja kadang tidak seramai itu gaya bicaranya. Mereka yang benar-benar pegang urusan besar justru sering tenang. Lah ini baru urusan receh sudah penuh tekanan suara. 😆
Fenomena begini sebenarnya sederhana: manusia kadang lebih gampang melihat debu di sandal orang lain daripada noda di bajunya sendiri.
Kalau orang lain ambil sedikit, dibahas panjang.
Kalau dirinya ambil sedikit, namanya "pengganti capek".
Kalau orang lain bicara keras, katanya arogan.
Kalau dirinya bicara tinggi, katanya berwibawa.
Standarnya elastis sekali, seperti karet jemuran.
Di tongkrongan, tipe begini sering bikin orang menahan senyum. Karena semua mendengar, semua paham, cuma kadang malas membalas.
Sebab percuma debat dengan orang yang merasa mikrofon hidup selalu menghadap dirinya.
Padahal hidup ini lebih ringan kalau sebelum mengoreksi orang, sempat cek ulang isi kantong dan isi kebiasaan sendiri.
Karena kadang masalahnya bukan fee-nya.
Tapi cara merasa paling bersih sambil diam-diam masih pegang sapu bekas halaman sendiri. ☕🔥😄

Ngereng Eyatore Akomentar
Bagaimana Pendapat Anda ?