Di sekolah itu ada satu profesi yang unik. Secara struktur bukan kepala sekolah, bukan wakil, bukan bendahara, tapi kadang aura jalannya… seolah kalau dia cuti sehari, sekolah bisa mendadak seperti kehilangan arah.
Ya, operator sekolah.
Tidak semua operator seperti itu. Banyak juga yang kalem, kerja diam-diam, beresin data tanpa drama. Tapi ada tipe tertentu yang habis buka laptop, wajahnya langsung berubah seperti habis menerima mandat negara.
Baru laptop nyala, browser dibuka, password dimasukkan, tiba-tiba cara bicaranya naik setingkat.
“Sebentar, jangan ganggu dulu, saya lagi sinkronisasi.” salah sedikit anjing keluar dari guanya, jadinya ekspresif suekali
Padahal yang dibuka kadang baru halaman login, loading muter-muternya lebih lama dari kerjaannya. 😄
Di ruang guru kadang muncul suasana seolah operator ini pusat gravitasi sekolah. Guru datang bawa berkas sedikit, langsung ditatap dengan ekspresi seperti mau sidang anggaran nasional.
“Pak, data saya sudah masuk belum?”
Jawabannya pelan tapi berat gess:
“Nanti ya, sistem pusat lagi ketat.”
Kalimat “sistem pusat” ini kadang dipakai seperti mantra sakti. Begitu keluar kalimat itu, guru langsung mundur perlahan, seolah server nasional memang sedang menunggu keputusan beliau.
Kadang ada juga operator yang mulai merasa nasib semua orang ada di tangannya.
Tunjangan guru? lewat dia.
Data siswa? lewat dia.
BOS? lewat dia.
Absensi? lewat dia.
Akhirnya seperti:
“Kalau saya tidak masuk, sekolah ini goyang.”
Padahal ya... besok juga sekolah tetap upacara, bel tetap bunyi, anak-anak tetap rebutan jajan cilok. 😄
Lucunya lagi, ada operator yang baru pegang satu akun, gaya jalannya sudah seperti orang yang hafal semua password kementerian.
Masuk kantor bawa laptop sambil muka serius, padahal file yang dibuka cuma rename dokumen yang tadi salah ketik.
Kalau ada kepala sekolah lewat, kadang tetap hormat. Tapi habis itu balik lagi bilang:
“Pak Kepsek juga nunggu saya ini, kalau data belum saya kirim ya belum jalan.”
Nah ini yang kadang bikin lucu. Seolah-olah sekolah berdiri di atas pundak satu orang.
Padahal kalau dipikir-pikir, sekolah itu hidup karena semua jalan bareng. guru ngajar, kepala sekolah mikir kebijakan, TU ngurus surat, penjaga sekolah buka gerbang, bahkan ibu kantin pun punya peran penting menyelamatkan guru lapar jam sepuluh pagi. ☕😄
Operator memang penting, iya. Sangat penting malah di zaman semua serba digital. Tapi jangan sampai penting berubah jadi merasa paling menentukan segalanya.
Karena sejatinya operator itu ibarat orang pegang remote AC di ruang guru. berguna, dibutuhkan, tapi bukan berarti bisa mengatur suhu semua orang.
Saya sendiri juga operator, tapi ya biasa saja. Tidak merasa habis login terus pangkat naik dua tingkat.
Kalau ada data, kerjakan. Kalau ada guru tanya, jawab. Kalau server error, ya sama-sama pusing.
Karena kalau mau jujur, operator itu kadang bukan paling berkuasa, tapi paling sering kena salah duluan kalau internet lemot. 😄
Server pusat error, operator yang dicari.
Password lupa, operator yang dicari.
Printer macet, kadang operator juga ikut dipanggil.
Jadi sebenarnya bukan jabatan tinggi, cuma kadang beban hidupnya memang dekat dengan colokan listrik.
Intinya sederhana, Jangan karena bisa reset password lalu merasa bisa reset nasib orang satu sekolah. 😄
Kerja penting iya, tapi santai saja. Karena laptop secanggih apa pun, kalau Wi-Fi mati tetap sama-sama menatap layar kosong.
Baca Juga
.jpg)
Ngereng Eyatore Akomentar
Bagaimana Pendapat Anda ?