Awalnya blog itu bukan karena cita-cita besar ingin jadi penulis digital, bukan juga karena merasa diri visioner di dunia internet. Awalnya sederhana sekali, cuma tempat nyimpen file kuliah. Tempat naruh tugas makalah, catatan materi, dan dokumen penting supaya kalau flashdisk mendadak rusak atau hilang, masih ada cadangan. Zaman itu flashdisk sering lebih dramatis daripada hubungan percintaan—baru kemarin normal, besoknya file hilang semua.
Waktu kuliah, blog ibarat lemari digital pribadi. Apa saja masuk. Tugas masuk. Ringkasan materi masuk. Kadang file yang dibuat tengah malam sambil ngantuk juga masuk. Dari situ malah tanpa sengaja muncul profesi sampingan yang cukup terhormat tukang bikin makalah untuk teman-teman.
Bayarannya? Ya seikhlasnya. Kadang dikasih uang, kadang dibalas gorengan, kadang cuma ucapan “nanti ya.” Dan kata “nanti” itu, seperti biasa, punya umur yang panjang sekali. Sampai sekarang beberapa mungkin masih dalam perjalanan.
Kalau ingat masa itu rasanya lucu juga. Dulu komputer belum semewah sekarang. Monitor kebanyakan masih cembung, besar, berat, dan kalau dilihat dari samping bentuknya mirip perut Mang Soleh habis kondangan tiga sesi. Belum banyak layar datar. Kalau monitor digeser sedikit, meja ikut bunyi seperti protes.
Internet juga belum segesit sekarang. Upload satu gambar saja bisa sambil bikin teh dulu. Kadang selesai upload, niat nulisnya sudah pindah ke rebahan. Tapi justru dari zaman lambat itulah sabar dibentuk kabar menunggu loading, sabar nunggu komentar, sabar nunggu siapa tahu ada yang baca.
Lalu waktu berjalan, blog yang awalnya cuma gudang file pelan-pelan berubah jadi sumber penghasilan. Bukan recehan biasa, tapi dollar. Rasanya waktu itu seperti mendadak jadi pekerja ekspor, padahal yang diekspor cuma tulisan dan ketekunan.
Sebulan rata-rata bisa dapat sekitar 250 dollar. Jumlah yang waktu itu sudah cukup bikin hati adem tiap lihat saldo. Dari hasil itulah akhirnya kebeli motor perjuangan, Honda Beat Pop warna putih. Motor yang nasibnya di pasaran agak unik—desainnya beda, tapi peminatnya seperti orang yang suka diam-diam - ada, tapi tidak banyak kelihatan.
Buat saya motor itu bukan sekadar kendaraan. Itu bukti nyata kalau tulisan bisa berubah jadi bensin, jadi roda, jadi alat berangkat ke mana-mana.
Tapi yang lebih mahal dari sekadar penghasilan blog sebenarnya adalah ilmu yang ikut datang diam-diam. Dari dunia blog saya belajar banyak hal yang dulu bahkan tidak pernah kepikirkan. Karena dasar blog itu dekat sekali dengan HyperText Markup Language, mau tidak mau jadi akrab dengan HTML.
Awalnya cuma belajar kode sederhana, buka tag, tutup tag, bikin paragraf, pasang gambar. Lama-lama malah paham bahwa dunia internet ternyata dibangun dari susunan kode yang kalau salah satu titik saja keliru bisa bikin tampilan berantakan seperti rambut habis bangun tidur.
Setelah HTML mulai akrab, pelan-pelan kenal juga dengan JavaScript. Awalnya cuma copas script kecil-kecilan buat efek tulisan bergerak, tombol melayang, atau widget aneh yang dulu terasa keren sekali. Walaupun kadang setelah dipasang, blog malah jadi berat seperti bawa beras lima kilo.
Lalu masuk juga ke PHP. Nah, kalau ini dulu rasanya seperti naik level. Mulai paham sedikit bagaimana halaman web bekerja dari belakang layar, bagaimana data diproses, bagaimana sistem berjalan tanpa kelihatan.
Belum lagi urusan CSS, yang justru paling sering bikin betah ngoprek berjam-jam. Karena dari sinilah tampilan blog bisa dibuat cantik, rapi, atau kadang malah terlalu kreatif sampai sendiri bingung lihat hasilnya. CSS itu seperti tukang dekorasi digital, warna, ukuran, posisi, semuanya diatur di sana.
Aneh memang, niat awal cuma simpan file, ujung-ujungnya malah belajar banyak ilmu yang sampai hari ini masih sangat relevan. Bahkan di tahun sekarang, pengetahuan soal kode tetap berguna. Dunia digital berubah, tapi fondasi seperti HTML, CSS, JavaScript, dan logika web tetap dipakai di mana-mana.
Sayangnya, penghasilan blog tidak bertahan selamanya. Dunia internet berubah cepat. Saat blog sedang nyaman, datang era YouTube. Orang-orang mulai pindah ke video, thumbnail ramai, suara heboh, durasi pendek tapi bikin penasaran.
Masalahnya, saya gagal adaptasi.
Adaptasi bagaimana, kamera bagus saja tidak punya. Lagi pula kalau disuruh ramai di depan kamera rasanya sulit. Saya ini ramainya memang di tulisan. Di tulisan bisa ngalor-ngidul, bisa bercanda, bisa nyindir halus. Tapi kalau kamera menyala, mendadak wajah serius seperti orang lagi diminta jadi saksi nikah.
Akhirnya ya sudah, jalan dengan cara sendiri saja. Menulis tetap lanjut, meski dunia ramai pindah arah.
Sampai sekarang ada satu mimpi blog yang belum kesampaian, lolos Google AdSense untuk tempat yang satu lagi. Sudah puluhan kali coba, puluhan kali juga ditolak. Rasanya formulir penolakan itu mungkin sudah hafal nama saya.
Sudah dibenahi, dirapikan, dicoba lagi, tetap saja kadang jawabannya belum waktunya.
Tapi ya begitulah. Dunia digital memang sering ngajari satu hal penting, yang bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling tahan mencoba.
Sekarang dicoba lagi. Pantang menyerah. Sebab siapa tahu pintu rezeki memang suka dibuka setelah orang capek mengetuk berkali-kali.
Atau minimal terbuka sebelum hujan, supaya jemuran aman.
Karena pada akhirnya blog bukan cuma soal tulisan, bukan cuma soal dollar, tapi soal perjalanan panjang, dari makalah bayaran ikhlas, monitor cembung, motor putih hasil nulis, sampai belajar kode-kode yang ternyata ilmunya masih kepakai sampai hari ini.

Ngereng Eyatore Akomentar
Bagaimana Pendapat Anda ?