Satire Warung Kopi Sengkuni Modern - Alfan Fazan Jr.
Satire Warung Kopi Sengkuni Modern

Satire Warung Kopi Sengkuni Modern


Sengkuni Modern Itu Biasanya Pesan Kopi Manis, Tapi Omongannya Pahit ☕šŸ˜. Gass langsung saja.

Di warung kopi, kadang yang paling panas bukan air seduhannya, tapi isi obrolannya. Ada saja satu tipe manusia yang datang dengan wajah santai, duduk paling depan, senyum paling ramah, seolah hidupnya penuh kedamaian. Tapi begitu mulut mulai bergerak, suasana berubah seperti rapat darurat tanpa undangan.

Model begini kalau di dunia wayang mungkin magang langsung ke Sengkuni, hanya bedanya sekarang tidak pakai kain kerajaan—cukup sandal jepit, gelas kopi, dan kalimat pembuka:

“Aku sebenarnya nggak mau ngomong, tapi…”

Nah, kalau kalimat itu sudah keluar, biasanya lima menit ke depan akan ada nama orang yang dibahas tanpa izin. wkwkwkšŸ˜‚

Yang menarik, orang model begini hampir selalu pandai memilih posisi. Di depan orang yang dibicarakan, sikapnya seperti sahabat lama:

“Wah, sehat? Lama nggak ketemu!”

Tapi begitu orangnya pergi dua meter, volume suara turun sedikit, nada bicara berubah, lalu cerita mulai berkembang seperti adonan gorengan kena minyak panas.

Yang bikin nyelekit, kadang kesalahan justru dari dirinya sendiri. Tapi karena mengakui salah terasa berat, akhirnya yang dipakai jurus lama: belokkan arah, cari kambing, lalu tampil seolah paling netral. gasssss !

Kalau ada masalah, dia bukan sibuk menyelesaikan, tapi sibuk memastikan dirinya terlihat tidak bersalah.

Ibarat gelas kopi tumpah karena tangannya sendiri, tapi yang disalahkan meja karena terlalu diam.

Lucu memang. Ada orang yang kalau bicara tentang keburukan orang lain begitu detail, seolah punya arsip lengkap. Tapi kalau ditanya soal kekurangannya sendiri, mendadak jawabannya pendek:

“Ya namanya juga manusia (nyamana la nyamana)”

Warung kopi sering jadi saksi bahwa sebagian orang ternyata lebih rajin mengaduk cerita daripada mengaduk kopinya sendiri. Sendoknya diam, lidahnya kerja lembur. šŸ„„šŸ˜„

Kadang orang begini juga hobi memakai wajah netral:

“Aku cuma menyampaikan.”

Padahal yang disampaikan sudah dicampur opini, tambahan rasa, dan sedikit dramatisasi biar terdengar lebih meyakinkan.

Yang lebih unik lagi, dia sering paling semangat bicara soal kejujuran:

“Sekarang susah cari orang tulus.”

Padahal kalimat itu keluar dari mulut yang habis memoles cerita orang lain lima menit sebelumnya.

Makanya di warung kopi ada pelajaran sederhana: tidak semua yang tertawa bersama berarti pikirannya sama bersihnya.

Kadang yang paling sering menepuk bahu justru yang diam-diam sedang mengukur kelemahan kita untuk bahan obrolan berikutnya.

Bukan berarti semua orang harus dicurigai. Tapi kalau ada orang yang terlalu sering membawa cerita orang lain, biasanya suatu hari nama kita juga tinggal menunggu giliran masuk daftar menu.

Karena bagi tipe sengkuni modern, obrolan tanpa korban kadang terasa kurang lengkap. wkwkwk ☕šŸ”„šŸ˜

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?