Saat Tugas Memanggil, Ketupat Harus Ikhlas Ditinggal

Saat Tugas Memanggil, Ketupat Harus Ikhlas Ditinggal

Ada satu momen dalam hidup setelah libur panjang yang rasanya selalu dramatis: ketika harus kembali ke Blega karena tugas sudah dimulai. Liburan di Pasongsongan rasanya baru kemarin duduk santai, ngopi, makan ketupat, ngobrol keluarga, tiba-tiba kalender seperti tidak punya belas kasihan—tanggal jalan terus, tugas pun ikut menunggu.

Perjalanan dari Pasongsongan ke Blega lewat jalur tengah KetapangRobatalSampangBlega itu bukan cuma perjalanan biasa. Itu semacam proses transisi batin: dari mode manusia liburan menjadi mode manusia yang kembali dihadapkan pada tanggung jawab 😆

Satu jam pertama dari Pasongsongan ke Ketapang biasanya masih penuh semangat. Motor melaju, badan masih ringan, pikiran masih positif. Bahkan kadang masih sempat senyum sendiri karena bekal dari rumah masih aman di tas. Tapi masuk menit-menit berikutnya, jalan mulai panjang, angin mulai serius, dan pikiran mulai masuk ke mode pertanyaan klasik:
“Kenapa libur selalu terasa pendek, tapi perjalanan pulang terasa panjang?”

Masuk jalur Ketapang ke Robatal, suasana mulai berubah. Jalanan kadang sepi, kadang tiba-tiba muncul truk besar yang jalannya seperti sedang merenung. Mau nyalip harus pakai strategi, karena kalau nekat sedikit bisa berubah dari perjalanan tugas menjadi cerita keluarga 😄

Lalu masuk Robatal menuju Sampang, badan mulai sadar bahwa duduk lama di motor ternyata punya filosofi sendiri. Pinggang mulai memberi kode, tangan mulai mencari posisi nyaman, dan helm terasa makin berat padahal isinya kepala sendiri.

Begitu sampai Sampang kota, biasanya ujian naik level. Lampu merah, kendaraan padat, orang menyeberang santai seperti waktu milik bersama. Di titik ini, kesabaran diuji. Kadang motor jalan, berhenti, jalan lagi, berhenti lagi. Rasanya seperti simulasi kehidupan: maju sedikit, lalu sabar lagi 🚦😆

Nah, bagian paling menarik itu jalur Sampang ke Blega. Secara teori tinggal lanjut, tapi praktiknya sering ada bonus: pasar, kendaraan besar, rombongan motor, dan ritme jalan yang bikin gas-tarik-rem jadi olahraga kaki kanan.

Kadang di tengah perjalanan muncul pikiran absurd:
“Kalau tugas belum mulai besok, mungkin motor ini belok lagi ke rumah.”

Tapi begitulah hidup orang yang sudah punya tanggung jawab. Mau badan masih ingin rebahan, mau suasana rumah masih nyaman, tetap harus berangkat. Karena tugas tidak pernah menunggu suasana hati selesai liburan.

Yang lucu, sesampainya di Blega, badan capek tapi pikiran langsung berubah mode profesional. Baru turun motor, buka tas, lalu sadar:
besok pagi sudah harus siap lagi menghadapi rutinitas, seolah perjalanan tiga jam tadi cuma pemanasan hidup.

Namun ada satu hal yang selalu pasti:
perjalanan jauh itu kadang melelahkan, tapi selalu punya cerita. Minimal cerita bahwa jalan pulang menuju tugas selalu berhasil membuat kopi rumah terasa lebih berharga ☕😄

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?