Kopi dan Rokok sebagai Duo Sahabat - Alfan Fazan Jr.
Kopi dan Rokok sebagai Duo Sahabat

Kopi dan Rokok sebagai Duo Sahabat

Kopi dan Rokok: Duo Sahabat yang Kalau Dipisah Rasanya Kayak Chat Dibaca Tapi Nggak Dibalas ☕🚬😆

Ada orang yang pagi-paginya nggak butuh motivasi, nggak butuh kata-kata bijak, nggak juga butuh alarm lagu semangat. Yang dia butuh cuma dua: kopi sama rokok. Kalau dua benda ini sudah nongkrong di meja, wajah yang tadinya kusut kayak baju habis diperas langsung pelan-pelan kembali manusiawi.

Kopi itu ibarat tombol restart buat otak. Baru seruput satu kali, mata yang tadi setengah tertutup langsung kebuka kayak habis dengar kata “transferan masuk”. Sementara rokok itu kayak teman curhat yang setia. Nggak pernah motong omongan, nggak pernah nyuruh sabar, cuma diam sambil asapnya naik pelan seolah ikut mikir: “berat juga hidupmu, bro.” 😌

Lucunya, banyak orang bilang, “Aku nggak kecanduan kok, cuma kebiasaan aja.” Padahal kalau kopi telat datang lima menit, wajahnya sudah kayak orang nunggu jawaban pinjaman belum dibalas. Kalau rokok habis, mulai buka laci, buka tas, bahkan ngecek saku celana kemarin siapa tahu ada puntung yang masih layak diperjuangkan. Itu bukan kebiasaan, itu sudah level hubungan batin.

Di warung kopi, kopi dan rokok sering jadi sponsor utama obrolan besar. Topik yang dibahas juga kadang luar biasa: ekonomi negara, politik dunia, nasib sepak bola nasional, sampai solusi kemacetan kota, semua dibahas oleh orang yang hutang kopinya masih dua gelas. Hebatnya lagi, solusi mereka terdengar sangat meyakinkan, minimal sampai gelas kedua habis. ☕😂

Ada juga tipe orang yang bilang, “Kalau belum ngopi, saya belum bisa mikir.” Padahal setelah ngopi pun yang dipikir tetap mantan, cicilan, sama chat yang centangnya dua tapi nggak dibuka-buka. Rokok pun ikut nemenin, seolah bilang: “ya sudah, bakar saja keresahanmu pelan-pelan.”

Kopi tanpa rokok kadang terasa kurang lengkap, kayak gorengan tanpa cabai. Sedangkan rokok tanpa kopi rasanya seperti nongkrong tapi teman-teman belum datang tetap jalan, tapi ada yang kurang greget.

Yang paling menarik, kadang orang beli kopi cuma satu gelas, tapi duduknya tiga jam. Rokoknya habis satu bungkus, obrolannya pindah dari soal kerjaan ke teori hidup, lalu berakhir pada kalimat klasik:

"Sebenarnya hidup ini sederhana, yang ribet itu manusia."
Padahal lima menit sebelumnya dia panik karena uang receh parkir hilang di saku. 🤣🚬

Begitulah kopi dan rokok. Dua benda sederhana yang sering jadi alat bantu manusia menghadapi kenyataan hidup: dari yang cuma ngantuk sampai yang pura-pura kuat menghadapi Senin pagi.

Kadang memang bukan soal nikmatnya kopi atau asap rokoknya, tapi soal jeda kecil di tengah hidup yang ramai. Karena di antara hiruk pikuk tagihan, deadline, dan drama manusia sok penting, ada momen ketika secangkir kopi dan sebatang rokok terasa seperti berkata:

"Santai dulu, dunia belum kiamat." ☕🚬😄

“Ya beginilah tentang rokok dan kopi. Bukan berarti saya menganjurkan, rokok itu bahaya, karena rokok dapat menyebabkan dompet cepat tipis, korek sering hilang misterius, dan yang paling sering: niat berhenti selalu kalah setelah habis makan. Jadi kalau mau tetap menikmati, minimal sadar bahwa kadang yang bikin candu bukan rokoknya, tapi momen duduk santai sambil merasa hidup sejenak bisa ditertawakan.”

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?