Hidup Demi Validasi: Capek Sendiri, Orang Lain Biasa Aja

Hidup Demi Validasi: Capek Sendiri, Orang Lain Biasa Aja

Di zaman sekarang ada satu spesies manusia yang unik banget. Mereka hidup bukan untuk bahagia, bukan juga untuk berkembang, tapi untuk satu tujuan mulia: terlihat keren di mata orang lain. Pokoknya yang penting kelihatan wah, walaupun kenyataannya ya… biasa aja. Bahkan kadang lebih banyak asap daripada apinya.

Orang tipe begini biasanya bangun tidur bukan langsung cuci muka, tapi langsung cek siapa yang lihat story semalam. Kalau viewers naik sedikit, mood bagus. Kalau sepi, hidup terasa tidak adil. Sarapan aja kadang belum, tapi caption motivasi sudah tiga paragraf.

Lucunya, hidup mereka penuh pencitraan tingkat dewa. Mulutnya seperti podcast motivasi berjalan, tapi tindakannya lebih kosong daripada galon habis di kos-kosan mahasiswa.

Contohnya ada orang yang tiap hari ngomong:

“Gue sibuk banget akhir-akhir ini.”

Padahal sibuk buka tutup aplikasi TikTok sambil rebahan miring kiri kanan kayak ayam mau bertelur.

Ada lagi yang suka upload foto di cafe mahal sambil buka laptop dan caption:

“Work hard in silence.”

Padahal file di laptop cuma Microsoft Word kosong dan WiFi cafe dipakai buat nonton video “cara cepat sukses tanpa modal”.

Yang paling lucu adalah manusia yang suka pamer relasi. Sedikit-sedikit upload foto sama orang penting.

“Meeting besar hari ini.”

Padahal cuma kebetulan duduk sebelahan pas seminar gratis dapat snack.

Ada juga tipe yang hobinya ngomong:

“Banyak project nih.”

Kalau ditanya project apa, langsung batuk kecil lalu mengalihkan pembicaraan:

“Yang penting tetap rendah hati, bro.”

Padahal project-nya cuma mindahin cucian dari mesin ke jemuran.

Orang haus validasi itu hidupnya capek sendiri. Semua harus diumumkan. Baru beli kopi upload. Baru bangun pagi upload. Baru baca dua halaman buku langsung selfie sambil caption:

“Never stop learning.”

Besok bukunya jadi tatakan remote TV.

Yang lebih ajaib lagi adalah mereka ingin terlihat sederhana… dengan cara dipamerkan terus-menerus.

“Aku tuh nggak suka flexing.”

Kalimat itu ditulis sambil foto setir mobil, jam tangan, kopi mahal, dan sepatu putih yang bahkan injaknya kayak takut lecet.

Kadang kita heran, kenapa ada orang yang hidupnya seperti sedang ikut audisi “Manusia Paling Keren Sedunia”, padahal penontonnya juga lagi sibuk mikirin hidup masing-masing. Orang lain lihat story cuma tiga detik lalu lanjut nonton video kucing joget.

Faktanya, kebanyakan orang sebenarnya nggak terlalu peduli. Kamu mau pamer kerja keras kek, nongkrong kek, selfie di gym kek, orang lain cuma bilang:

“Oh.”

Habis itu lanjut makan gorengan.

Tapi orang haus validasi sering menganggap dirinya pusat semesta. Kalau postingannya sepi like, langsung merasa dijauhi dunia. Padahal algoritma aja mungkin lagi tidur.

Yang paling receh itu ketika mulutnya paling visioner sedunia.

“Tahun ini gue mau fokus berkembang.”

Tapi bangun siang terus tiap hari.

“Gue nggak suka drama.”

Tapi paling depan kalau ada gosip.

“Money is not everything.”

Kalimat itu diucapkan sambil berharap ada yang traktir.

Kadang hidup mereka seperti trailer film action: ramai, meledak-ledak, penuh kata-kata keren. Tapi pas filmnya diputar… plotnya kosong.

Dan lucunya lagi, makin banyak pencitraan biasanya makin rapuh juga mentalnya. Karena hidup demi pengakuan orang lain itu nggak ada habisnya. Hari ini pengin dipuji keren, besok pengin dibilang sukses, lusa pengin dianggap paling sibuk. Lama-lama hidupnya bukan dijalani, tapi dipentaskan.


Padahal orang yang benar-benar keren biasanya santai aja. Nggak teriak sana sini soal dirinya hebat. Nggak tiap lima menit upload “grinding”. Karena orang yang benar-benar bekerja keras biasanya terlalu sibuk buat pencitraan.

Ibarat mie instan, ada yang bungkusnya heboh banget gambar ayam, telur, cabai, udang, sayur lengkap. Pas dibuka… isinya tetap mie keriting tiga suap.

Begitulah sebagian manusia. Branding luar biasa. Isi seadanya.

Tapi ya sudahlah. Hidup memang penuh karakter unik. Ada yang diam-diam berkembang, ada yang berkembang di caption doang. Ada yang kerja beneran, ada yang kerjaannya bikin orang mengira dia kerja.

Dan mungkin itu pelajaran paling lucu dari hidup: orang yang paling sibuk terlihat sukses kadang justru paling sedikit bergerak. Karena energinya habis buat pencitraan, bukan buat tindakan.

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?