Hidup Itu Tetap Jalan, Mau Kamu Lagi Galau atau Lagi Bahagia

Hidup Itu Tetap Jalan, Mau Kamu Lagi Galau atau Lagi Bahagia

Kadang kita merasa hidup ini hancur banget cuma karena satu masalah. Chat nggak dibalas, harapan nggak sesuai kenyataan, atau hati lagi remuk kayak kerupuk kena kuah. Lalu kita rebahan sambil menatap langit-langit kamar, pasang lagu galau, dan merasa dunia ikut suram bersama kita. Padahal kenyataannya, dunia biasa aja. Nggak ada yang berhenti cuma karena kita lagi sedih.



Di luar sana semut tetap sibuk jalan kesana kemari sambil bawa remah roti yang bahkan lebih besar dari badannya. Mereka nggak peduli kamu habis diputusin atau lagi overthinking tengah malam. Kang bakso depan gang juga tetap muter jualan dengan suara khasnya yang konsisten tiap sore. Matahari tetap terbit seperti biasa tanpa pernah bilang, “Hari ini aku redup dulu deh, kasihan dia lagi galau.” Semua tetap berjalan normal seolah-olah hidup ini memang harus terus lanjut.

Teman-temanmu juga tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka tetap nongkrong, tetap ketawa ketiwi, tetap kirim meme receh di grup, bahkan masih sempat upload foto estetik sambil caption sok bijak tentang healing dan self love. Sementara kita sibuk merasa jadi tokoh utama film sedih, orang lain justru lagi sibuk mikirin promo gratis ongkir dan diskon tanggal kembar.

Lucunya, kadang kita terlalu merasa jadi pusat semesta. Seolah-olah ketika kita sedih, seluruh alam ikut murung dan bumi berhenti berputar beberapa menit untuk menghormati kegalauan kita. Padahal enggak juga. Kucing tetangga tetap tidur nyenyak, tukang galon tetap keliling, emak tetap nyuruh beli bawang, dan tagihan listrik tetap datang tanpa peduli suasana hati kita.

Bukan berarti sedih itu nggak boleh. Sedih itu manusiawi. Tapi terlalu tenggelam dalam kesedihan juga nggak akan bikin keadaan berubah. Dunia tetap jalan dengan atau tanpa drama kita. Jadi kalau lagi terpuruk, istirahat sebentar boleh, nangis juga boleh, tapi jangan lupa bangun lagi. Karena hidup ini bukan sinetron yang soundtrack-nya galau terus setiap episode.

Pada akhirnya, kita sadar kalau hidup memang harus terus berjalan. Mau kita bahagia, sedih, kecewa, atau patah hati, matahari tetap terbit, semut tetap bekerja, dan kang bakso tetap jualan. Jadi daripada terlalu lama larut dalam galau, lebih baik makan dulu, mandi, lalu lanjut hidup. Karena satu-satunya yang benar-benar berhenti di dunia ini cuma timer rice cooker kalau nasinya sudah matang.

Ada satu hal lucu tentang hidup yang sering baru kita sadari ketika umur mulai bertambah, yaitu: ternyata dunia ini tidak pernah benar-benar berhenti hanya karena kita sedang sedih. Dulu waktu kecil kita kira kalau hati lagi hancur, langit bakal ikut mendung, hujan turun dramatis, lalu semua orang mendadak paham kalau kita sedang terluka. Kenyataannya? Besok paginya tukang sayur tetap teriak depan rumah, grup WhatsApp tetap rame kirim video receh, dan tetangga tetap nyuci motor sambil muter dangdut koplo volume penuh seakan hidup tidak punya masalah sama sekali.

Kadang kita terlalu serius memandang kesedihan. Seolah-olah itu adalah pusat dari seluruh kehidupan. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, di saat kamu lagi rebahan sambil menatap kipas angin dan bertanya “kenapa hidup begini banget ya?”, semut di lantai tetap sibuk angkut remah makanan tanpa peduli drama percintaan manusia. Mereka nggak pernah berhenti di tengah jalan cuma karena colony-nya kena ghosting. Mereka tetap kerja. Tetap jalan. Tetap fokus. Bahkan mungkin semut lebih konsisten daripada sebagian hubungan manusia zaman sekarang.

Hidup memang seperti itu. Mau kamu lagi patah hati, gagal, kecewa, malu, bingung, atau merasa jadi manusia paling sial sedunia, matahari tetap terbit dari timur tanpa izin dulu ke perasaanmu. Kang bakso tetap keliling sambil mukul mangkok khasnya. Tukang servis galon tetap lewat. Anak-anak kecil tetap main bola sambil teriak-teriak. Temanmu tetap upload story nongkrong sambil ketawa ngakak. Bahkan ayam tetangga tetap berkokok dengan penuh percaya diri walaupun suaranya kadang fals.

Dan anehnya, justru di situlah letak pelajaran hidup yang sering kita abaikan. Dunia mengajarkan bahwa hidup harus terus bergerak. Alam semesta seperti sedang bilang, “iya kamu sedih, tapi hidup tetap lanjut.” Bukan karena dunia jahat atau nggak peduli, tapi karena memang begitulah cara hidup bekerja. Kalau semuanya ikut berhenti hanya karena satu orang galau, mungkin sekarang jalan raya kosong, warung tutup, dan bapak-bapak ronda malah ikut merenung sambil dengerin lagu Dewa 19.

Kita sering terlalu fokus pada apa yang hilang sampai lupa melihat apa yang masih ada. Saat satu hal tidak berjalan sesuai harapan, rasanya hidup runtuh total. Padahal nasi padang masih enak, wifi masih nyala, dan meme internet masih lucu. Kadang kita lupa bahwa kebahagiaan kecil masih banyak berserakan di sekitar kita hanya karena pikiran kita sibuk memeluk kesedihan terlalu erat.

Lucunya lagi, manusia itu suka merasa dirinya tokoh utama film. Kalau lagi sedih, jalan pelan sambil denger lagu galau merasa paling tersakiti sedunia. Padahal orang di sebelah kita mungkin lagi mikirin cicilan motor, harga cabai, tugas kuliah, atau bingung kenapa sandal sebelah hilang. Semua orang ternyata punya bebannya sendiri-sendiri. Tidak ada hidup yang benar-benar santai. Bedanya cuma ada yang menghadapinya sambil ketawa, ada yang sambil ngopi, ada yang sambil main game, dan ada yang sambil pura-pura kuat padahal dalam hati pengin jadi ikan lele saja karena hidupnya terlihat tenang di kolam.

Semakin dewasa kita mulai sadar bahwa hidup bukan tentang selalu bahagia. Tapi tentang bagaimana tetap berjalan meski keadaan tidak sesuai keinginan. Kadang hidup memang absurd. Hari ini kamu merasa gagal total, besok tiba-tiba ketawa karena lihat video kucing jatuh dari meja. Hari ini kamu merasa sendirian, besok ada teman lama tiba-tiba ngajak nongkrong. Hidup sesederhana itu: berubah terus tanpa permisi.

Makanya terlalu lama tenggelam dalam kesedihan sebenarnya capek sendiri. Dunia tidak berubah hanya karena kita memilih diam di tempat. Tagihan tetap datang. Alarm tetap bunyi. Perut tetap lapar. Bahkan emak tetap nyuruh beli bawang meskipun kamu lagi patah hati tingkat nasional. Di titik tertentu kita sadar bahwa hidup tidak menunggu siapa-siapa. Kalau kita berhenti terlalu lama, yang jalan duluan ya waktu.

Bukan berarti kita nggak boleh sedih. Sedih itu manusiawi. Nangis juga nggak masalah. Kadang hati memang perlu istirahat dari pura-pura kuat. Tapi jangan sampai kesedihan dijadikan rumah permanen. Datang sebentar boleh, numpang ngopi boleh, tapi jangan dikasih sertifikat tanah.

Karena sejatinya hidup ini jauh lebih luas daripada satu kegagalan, satu penolakan, atau satu rasa kecewa. Masih banyak hal kecil yang sebenarnya layak disyukuri. Masih ada pagi yang bisa dilihat, kopi yang bisa diminum, teman yang masih peduli, dan tawa receh yang tiba-tiba muncul dari obrolan nggak penting.

Dan mungkin memang begitu cara terbaik memandang hidup: jangan terlalu merasa dunia melawanmu, karena sebenarnya dunia cuma sedang berjalan seperti biasa. Kadang kita saja yang terlalu lama berhenti.

Jadi kalau hari ini hidup terasa berat, ingat saja satu hal sederhana: bahkan semut pun tetap bekerja meskipun tidak pernah dapat pujian. Maka kamu juga pasti bisa lanjut berjalan, pelan-pelan saja. Tidak perlu buru-buru menjadi hebat. Yang penting jangan menyerah hanya karena satu bab hidup terasa berantakan.

Karena pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling jarang jatuh. Tapi siapa yang masih mau bangun meski sambil ngeluh, sambil lelah, sambil bilang, “yaelah hidup,” lalu lanjut lagi besok pagi.

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?