IFP Layar Canggih, Tapi Dipakai Buat Tebak-Tebakan Hewan Berkaki Empat

IFP Layar Canggih, Tapi Dipakai Buat Tebak-Tebakan Hewan Berkaki Empat

Sekarang sekolah-sekolah lagi rame banget soal IFP. Layarnya gede, kinclong, sentuh sana-sini bisa, tampilannya modern banget. Pokoknya kalau ada tamu datang ke sekolah, benda pertama yang dipamerkan pasti IFP. Guru-guru foto dulu depan layar, upload status sambil nulis, “Siap menyongsong pembelajaran abad 21.” Keren lah pokoknya.

Tapi makin ke sini, ada satu hal yang bikin senyum tipis campur nyesek. Soalnya banyak IFP yang ujung-ujungnya cuma dipakai buat… kuis tebak-tebakan.

“Ibu punya soal ya anak-anak…”
“Aku hewan berkaki empat, suka menggonggong, siapakah aku?”

Lalu muncul pilihan jawaban di layar 75 inci dengan animasi jedag-jedug.

A. Kucing
B. Ayam
C. Anjing
D. Galon Aqua

Anak-anak heboh. Guru senang. IFP menyala terang. Tapi somewhere in another dimension, fitur-fitur canggih IFP lagi nangis pojokan.

Kadang lucu juga ya. Teknologi mahal-mahal akhirnya cuma jadi papan tulis versi sultan. Dulu nulis pakai spidol, sekarang pakai stylus. Dulu soal ditempel di kertas, sekarang ditempel di layar. Yang berubah cuma ukuran dan resolusi. Pola ngajarnya masih copy-paste zaman dulu.

Padahal waktu pelatihan IFP dulu semangatnya bukan main. Semua serius nyimak. Pegang stylus kayak presenter seminar nasional. Nyoba fitur split screen, whiteboard digital, AI, screen sharing, simulasi interaktif, pokoknya canggih banget. Sampai ada yang bilang, “Wah ini kalau dipakai maksimal bisa mengubah cara belajar siswa.”

Eh pas balik ke kelas…

“Anak-anak, buka buku halaman 32.”
IFP-nya cuma dipakai nampilin PDF. 😭

Kadang saya mikir, kemana itu yang kemarin ikut pelatihan IFP? Ilmunya kayak hilang ditelan login WiFi sekolah.

Yang lebih lucu lagi, sekarang banyak yang merasa pembelajaran sudah modern hanya karena layarnya gede. Padahal siswa masih duduk diam, guru masih ngomong sendiri, lalu ditutup dengan kuis rebutan jawab. Bedanya sekarang semua tampil dalam kualitas Full HD.

Masalah utamanya sebenarnya bukan di alatnya. IFP itu canggih. Bahkan terlalu canggih kalau cuma dipakai buat main tebak-tebakan tiap hari. Masalahnya ada di mindset kita sendiri. Mau sekolah punya layar sentuh, internet cepat, AI, bahkan kalau perlu hologram sekalian, kalau cara ngajarnya masih “guru ceramah, siswa dengar, habis itu kuis”, ya hasilnya muter di situ-situ aja.


IFP itu bukan sekadar layar besar. IFP itu harusnya jadi alat buat mengubah cara belajar. Siswa bisa diskusi bareng, presentasi, gambar ide langsung di layar, analisis video, bikin proyek, eksplorasi materi, sampai belajar hal-hal yang dulu susah dijelaskan pakai papan tulis biasa.

Bukan malah berubah jadi alat resmi lomba:
“Siapa tercepat pencet jawaban B.”

Kadang kasihan juga sama IFP. Datang ke sekolah dengan cita-cita tinggi ingin merevolusi pendidikan, eh kenyataannya tiap hari cuma disuruh nampilin PPT dan kuis “tebak gambar hewan”.

Akhirnya kita harus jujur sama diri sendiri. Teknologi secanggih apa pun nggak akan otomatis bikin pembelajaran jadi keren kalau pola pikir kita masih versi lama. Karena yang perlu di-upgrade sebenarnya bukan cuma perangkatnya, tapi juga cara kita mengajar.

Kalau nggak begitu, ya ujung-ujungnya IFP cuma jadi:
“TV mahal yang dipakai buat nanya… siapa nama anak kambing.” 😭

Baca Juga

Bagikan ke Rekan Anda

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?